Rabu, 23 Desember 2015

Semarak Akhir Semester PA ‘Aisyiyah






 Demi mengusir kejenuhan dan membebaskan kekosongan aktivitas setelah ujian, PA ‘Aisyiyah mengadakan ragam kegiatan pemacu kemenangan dan kegembiraan. Diantaranya ialah turnamen olahraga dan kegiatan lomba cabang agama. “Kegiatan ini sangat menyenangkan. Apalagi mendapat hadiah yang super duber.” Begitu kata Nanda Rezki, salah satu siswa di PA ‘Aisyiyah.
PA ‘Aisyiyah, yang didiami oleh tiga puluh dua pelajar mulai dari SD, SMP/MTs, hingga SMK dan MA KM Muhammdiyah baru-baru ini mengadakan pertandingan antar kelompok yang dimulai pada Jum’at (18/12) hingga Rabu (23/12) di PA ‘Aisyiyah Padangpanjang. Ragam kegitan diantaranya ialah dalam bidang olahraga; Futsal mini, Volly mini, Takraw, catur, dan tenis meja. Sedangkan dalam bidang agama ialah; kultum, adzan, tilawatil quran, nasyis solo dan group, dan Muhadarah. Serta beberapa tambahan lomba antara lain, Stand Up Comedy, tertib ibadah, dan tambahan bagi yang juara di kelasnya.
“Kegiatan ini bukan berarti menyemarakkan akhir tahun, ya. Melainkan mengisi hari-hari libur akhir semester menjelang penerimaan rapor.” Ungkap Rizki Desyanto selaku pengasuh di PA ‘Aisyiyah. Selain itu, imbuhnya bahwa “Kegiatan ini tentunya bukan hanya sekedar kegiatan lomba saja. Tapi juga berguna untuk memunculkan dan memicu semangat anak-anak dalam bakat yang mereka miliki.
Dari tiga puluh dua siswa telah dibagi menjadi empat kelompok masing-masing terdiri dari delapan hingga sepuluh anggota. Semua bermain dengan spontanitas dan sportifitas masing-masing. “Juga melatih kekompakan mereka dalam satu tim tentunya.” Imbuh Pembina yang akrab disapa Ustad Rizki tersebut dilansir.
Tepatnya Rabu (23/12) ba’da Ashar pengumuman pemenang kegiatan tersebut disampaikan. Dihadiri langsung oleh beberpa orang pengurus PA ‘Aisyiyah. Keputusan dan pengumuman terakhir menyampaikan juara-juara terpilih pada bidang olahraga; catur dimenangkan oleh Yori Firdani (Juara satu) dan Salim Gunawan (Juara dua), tenis meja, kembali diraih Yori Firdani (satu) dan Arif Rahmadi (dua), sementara futsal mini juara satu oleh kelompok satu dan juara dua kelompok tiga. Volly mini, juara satu kelompok empat dan juara dua diraih kelompok satu. Pada takraw, kembali kelompok empat menjadi pemuncak satu dan kelompok dua pada juara dua.
Sementara dalam bidang agama, tidak ada juara satu dan dua. Namun hanya dipilih yang terbaik sahaja. Diantranya, Adzan dimenangkan oleh Salim Gunawan, Tilawah Alquran (Mikel Andri), Nasyid solo sekaligus group (kelompok tiga), dan Muhadarah (Kelompok tiga). Untuk tahfidz, tingkat SD (Adam Mulia Rahman), MTs (Hasbi Adha), dan SLTA (Salim Gunawan).
Dalam bidang tambahan diantaranya, Pada Stand Up Comedy dimenangkan Oleh Akram Aulia Asti, Untuk Cipta karya, Muhammad David, dan tambahan pada juara-juara kelas di sekolahnya diraih oleh Malik dan Adam di tingkat SD, Taslam di tingkat SMP. Sementara di tingkat SLTA diraih oleh Hendri, Budi, Fajri, dan Akram .
“Harapan dari semua kegiatan ini adalah agar semua bakat yang dimiliki setiap siswa tidak terdiamkan saja. Namun bisa diasah dan dimunculkannya dalam berkompetisi sesama mereka terutama. Jika bisa dibawa keluar, Itu lebih baik.” Ungkap ustad Rizki di akhir sesi wawancara.

(PujaSenja, siswa Ma KM Muhammadiyah Padangpanjang)

Kamis, 17 Desember 2015

Sebab-Akibat

Maka, hidup ini adalah sebab-akibat yang terus berjalan tanpa putus. Antara satu dengan yang lainnya akan terhubung. bisa jadi yang satu sebagai sebab, dan yang satu lagi sebagai akibat. Dan semua akan silih bergantian menjadi sebab dan akibat. Ada saatnya kia menjadi sebab seseorang, bisa juga suatu saat kita menjadi akibat dari seseorang.
Mengapa Aku bisa dekat denganmu? Untuk apa? Bukankah suatu yang sia-sia saat dekat dengan orang yang belum tentu baik sebenarnya? Apakah, kita akan berbaik selamanya?
Semua tak lain adalah sebab-akibat. Aku mengenal Jejaring sosial ini adalah sebab ingin menuliskan coretan tiada arti bagi banyak orang. Namun juga berarti bagi tidak sedikit orang. Akibatnya apa? Engkau pun rajin membaca tulisanku. Apakah kau suka? Jawabannya ada pada dirimu.
Retoris mungkin untuk ditanyakan apakah engkau suka atau tidaknya. sebab jawabannya ada pada tanda "Like" yang kau tinggalkan di setiap tulisanku.
Lalu, berceritalah engkau tentang bungamu yang tak lagi mekar. Sebab apa? Katamu sebab kumbang yang dinanti telah menelangsa pada tangkai yang lain. Maka akibatnya, Aku hadir tuk kepakkan sayap menghampirimu, menunggu mekarmu. Mungkin engkau takut dikecewakan lagi. Maka, aku yakinkan engkau untuk akan diriku.
Kumbang yang pergi bersamamu menyebabkan engkau tak kembang dan mekar. Maka akibatnya ialah membuatku semangat untuk memekarkanmu. Sungguh. Kita sama-sama tidak menyesali masa lalu sekarang. Sehebat apapun masa lalu, sejatinya masa lalu tidak akan pernah menang dibanding hari ini. Apalagi masa depan.
Maka, masa lalu adalah sebab dan hari ini beserta masa depan adalah akibatnya. Engkau, aku, mereka. Semua melangkah akibatnya.
(Seusai membaca kembali Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah dan sebait Rembulan Tenggelam di Wajahmu karya D. Tere Liye)
....
‪#‎PujaSenja‬

Minggu, 13 Desember 2015

sayap2ku patah

hatiku terluka
kuinsan biasa
tak luput dari kecewa.
takku hirau beda yg nyata
tlah kuhalau segala gundah
agar kita bisa bersama
tuk sempurnakan Din-Nya.
mungkin telah tertulis di lauhul mahfudnya
pertemuan kita diujung senja
berharapku pinta
agar dilembutkan hatinya.
Bukan sekedar pengantin biasa
kuingin berakhir di syurga
bimbinglah aku dijalanNya
meniti dunia yg fana
...
From Rad

"MEMIKIRKANMU"


CERMIN (Cerita Mini)
By Muhammad David
"Mas, kenapa bengong.?" seorang perempuan dengan anggun menyentuh pundak seorang lelaki di sebuah ruang kerja.
"Tidak kenapa-kenapa Adinda. hanya memikirkan seseorang rupanya." Balas lkai-laki itu tersenyum padanya. Maka penasaranlah perempuan itu dibuatnya, Hingga menimbulkan banyak pertanyaan.
"Siapakah dia mas?"
"Seseorang serupa bidadari bagiku."
"Sungguhkah?"
"Ya, dia amatlah baik padaku."
"Bolehkah aku cemburu?"
Si lelaki teridam menatap perempuan itu lekat-lekat.
"Apa alasanmu untuk cemburu? adakah dikau memikirkan aku?" balas si laki-laki sehingga membuat suasana hening sejenak.
"Tentulah aku memikirkanmu, Mas. tidak mungkin aku bertanya sebab bengongmu saat ini jika aku tidak memikirkan dan mengkhawatirkanmu."
kembalilah diam suasana pada kamar itu. Si laki-laki menatap tersenyum perempuan di hadapannya. Maka si perempuan semakin bingunglah.
"Adindaku, Bidadari mana coba, yang akan aku pikirkan selain dirimu saat ini. Sungguh, Engkaulah bidadari yang aku maksudkan itu. kau tidak usah cemburu lagi."
Lantas laki-laki itu mencium kening perempuan yang tadi dibuatnya bingung.
‪#‎PujaSenja‬
Kembali mendapat inspirasi. dari seorang Akhwat. Serta terinspirasi dari sebuah kisah seorang khulafaurasyidin. Umar Bin Khattab

Adinda

Namanya Aisyah. dua tahun lebih muda dariku. MAka waktu itu, aku pernah dekat dengannya. Maka berkasihlah kami. itu beberapa tahun yang lewat.
Maka, suatu pagi, ku kirimkan pesan untuknya.
"Selamat pagi, Adinda. apa kabar?"
lama menunggu, akhirnya dibalasnya lah.
"Hmm. Salah kirim ya?" balasnya.
"Tentulah tidak, dinda." balasku meyakinkan.
"Hmm." balasnya lagi
"Kenapa dinda?" tanyaku.
"Tuh kan, salah lagi." Aku semakin bingung dengan balasannya. "Apa yang salah padaku?" itu pikirku dan langsung ku kirimkan pertanyaanku padanya?
...
"Sekarang jelaskan siapa dinda? jelas-jelas namaku Aisyah. apakah dia perempuan yang kamu cintai sekarang?" beberapa menit kemudian, dia menelponku dan langsung memberikan pertanyaan jelas padaku.
dia sempat menangis terdengar olehku. Aku lantas tertawa di sini.
"sekrang jelaskan bang. siapa dinda itu?" ketusnya sebal mendegar tawaku.
"Ok deh. Aisyah yang abang sayangi. tidak ada perempuan yang beranama dinda, yang abang sayang." jawabku tenang.
"Lalu.."
"Adinda yang abang maksudkan ialah, ungkapan sayang abang kepadamu. hal itu wajar. dinda bukanlah nama orang. melainkan panggilan adik dari seorang laki-laki kepada perempuannya."
kami teridam sesenak. kemudian dia memecahkan hening.
"Lalu, panggilan dinda kepada abang apa?"
"Kanda."
"OK deh Kanda sayang. apa kabar kanda?" perempuan itu bertanya girang padaku. Aku tahu dia pasti tersenyum disana dengan malu-malu. Cemburu tanpa sebab.
Hhahahahaha. dia menutup telepon dan mengirimkan Sebuah pesan singkat.
"Jaga dirimu disana Kanda ku. Maka yakinkan hatimu pada dindamu ini."

Pada Sampan Kita

Tuh kan! Nakal sih. Nggak percaya juga apa yang Aku katakan dulunya. Aku ini takut membawamu berlayar terlalu jauh, cukuplah di tepian sahaja. Tapi, Tanpa sadar engkau mendayungnya. Aku juga tidak sadar. Eh, malah engkau menyalahkanku. Kau bilang aku yang mendayungnya. Padahal, aku sedang enak-enaknya menyirammu hingga basah bajumu. yang memegang kendali kan dirimu. yang mengarahkan jalannya sampan ini adalah kamu. Aku hanya duduk. Tapi, lantas kau menyalahkan aku kembali. kau bilang, "Kenapa kanda sirami aku. Aku kan kesal. Jadi, hanya ini caranya. mendayungnya ke tengah." Cemberutmu. Nah, itu kan sudah jelas. dirimu yang mendayungnya bukan aku. Walau aku salah, telah menyirammu. Tapi, apa tidak ada cara lain, selain membawa sampan ini ke tengah? Ah, apakah aku bisa berenang jika sampan ini terbalik? Oh tidak, ini sudah amat ke tengah. Apakah harus berbalik? atau mencari tepian di sudut sana? Ah, adindaku memang nakal.Aku kesal. engkau berkata lagi meyakinkanku "Laut ini telah menjadi takdir kita, Kanda. maka, bersamalah kita berlayar di atasnya. kalau memang kanda yang seharusnya mendayung, dinda juga siap kapanpun kanda menyuruh. bahagialah kita kanda."