Minggu, 08 Maret 2015

Anniza Tiara Sarti




Aku katakan, aku suka senyummu
Namun kau tak mengerti
Nyinyir mulutku sudah berkata
Indah sudah kataku, tapi tak kau indahkan
Zig-zag hidup ini antara aku dan kamu
Aku ini, kau itu.

Tiap-tiap kata selalu indah untukmu
Irikan burung yang berkicau merdu
Aku, rasa bangga dapat memujimu. Tapi,
Rasanya aku tak dapat balas darimu
Aku bagai si punguk rindu pada bulan

Semua telah ku lakukan
Arti hidupku ku sudutkan padamu
Rasa sayangku, ku torehkan untukmu
Tapi, dikau tak anggap ku ada
Inikah namanya, Cinta bertepuk sebelah tangan?
(Padangpanjang, 8 Maret 2015 “12:18 AM”)

Sabtu, 07 Maret 2015

Dari matamu

Dari matamu, aku Rindu
Aku, tak bisa palingkan senyum

Rasanya, aku terbius akan indahmu
Inginku selalu di dekatmu
..
Mungkin ini hal yang biasa
Akan dirimu yang memang selalu dipuja
Tapi, bagiku tetaplah indah
Aku selalu memandang indah dirimu
Mungkin kau disana tak rasakannya. tapi,
Untukmu, aku selalu rindu

Margareta Wila


.
Mata indah kan selalu menatapmu
Artikan senyum jadi tujuan
Rasakan surgawi dunia pada tatapan
Gundah kan jadi bahagia
Entah, dimana sebenarnya keindahan itu
Tatapan kan selalu paksakan senyum. dan,Waktulah yang kan artikan semuanya
Indah yang sebenarnya kan di jelaskan
Lelah tiada berarti untuk yang telah berlalu
Angan kan jadi sesal jika tak berujung nyata

Syifa silvia


.
Sebelah mata memandang
Yang terbaik tak tertatap
Indah tidaklah jadi indah selamanya
Fajar kan terasa senja pada sebelah mata
Angin dingin terasa hangat kencang menusuk jiwa
...
Semua kan terbalik pandangan dalam ini
Ingin kan indah, rubah jadi punguk
Lama waktu kan terasa foya
Virus itu kan jadi minuman biasa
Indah bukan indah
Arak kan terasa madu

Miftahul Jannah


Mengalun keras suara itu
Iriskan dengung pada telinga
Fana sudah harapan sebelumnya
Tidak ku pikir suara lembut itu
Akan berteriak keras pada mukaku
Haruskah aku berteriak balik?
Untuk katakan aku masih berani
Lambaikan tangan pada wajahmu.
..
Jangan katakan aku lemah
Aku bisa membalasmu
Namun aku takut akan simbong
Neraka balasan Semua itu
Aku, hanya ingin mengalah
Hentakkan Kedewasaanku Padamu.
 (Kacang Kayu, 7 Maret 2015)

Purnama.....


Aku disini rindukan Purnama
Yang bersinar pada malam
Untukmu ku sampaikan Rinduku
...
Kapan engkau datang, duhai purnama?
Untuk mu kutitip pesan.
Supaya lekas engkau datang
Untukmu juga ku bertanya
Masihkah kau mau sinari aku?
Aku yang selalu inginkan cahayamu
..
Dan aku pun tahu hadirmu
Entah berapa lama tahannya
Waktu yang akan tentukan.
Inginku selalu cahayamu.

Rara Ayu


...
Rasanya gelap kan Datang
Aku kembali takut tuk melangkah
Rasa di hatiku kembali gundah.
Aku tak kan mengutuk marah pada Cahaya.
...
Aku hanya bisa pasrah.
Yang di atas telah beri jalan untukku
Untaikan ribuan kisah pahit manis dalam ceritaku.
Kacang Kayu, 7 Maret 2015