Sabtu, 14 Februari 2015

Kursiku



Oleh: Muhammad david, Siswa MA KMM
Padangpanjang
Kursi…
Tempat aku menaruh hidup, tempat aku bergantung
Siang malam aku kau temani, tak kenal lelah
Kursi… tempat bermain ku dikala kecil
Tempat ku bersandar lelap kala malam datang
Terkadang engkau bergoyang, entah sedikit entah banyak
Hanya demi kebahagiaanku
Tak kau hiraukan tubuhmu yang akan terluka.
Kursi…
Kini aku telah dewasa
Hari-hariku tak lagi bersamamu
Kini aku hidup  di perantauan
Mencari untung yang mungkin ‘tuk membahagiakanmu
Aku datang hanya tuk mengadu, menangis, meratapi nasibku
Kursi… aku butuh nasehatmu, bukan gurauan seperti dulu lagi
Aku butuh obat tuk hiup. bukan dari dapur yang biasa kau racik untukku
Kursi…
Kini engkau telah berubah
Tak lagi kudengar untaian indah dari mulutmu
tak lagi kuciumi wangi indahmu dulu
Kursi… kulihat engkau telah renta               
Tak sanggup tuk berjalan
Izinkan aku tuk menjagamu
Sebagai tanda baktiku padamu.
Izinkan ku mengbdi padamu
Sebelum engkau pergi

Teruntuk seseorang



Celah telah terbuka
Engkau datang pada celah-celah bersama yang lain.
Aku tak percaya pada mula datangnya celah.
Tak percaya pada mula datangnya engkau
aku butuh engkau pada titik yang dulu
engkau datang menjemput masa lalu
engkau biarkan aku bernostalgia
untukmu ku titip nostalgia itu
agar ku bisa meniti masa depan
untukmu yang hadir di sisiku, aku ingin
engkau selalu datang pada celah itu
menjemput nostalgiaku, memberi celah bahagia
untuk masa depanku.
Engkau malaikatku, penentram semua masalahku
Pencair akan hati yang beku ini
Pereda amarah dan masalah dalam hati yang membara ini.
Guru, engkau hadir pada celah. Engkau hidup pada celahku.
Akankah kau pergi pada celah pula?
Entah

Bulan Oh Bintang




Muhammad David
(Siswa MA KM Muhammadiyah Padangpanjang)
Bulan, bintang, bulan
Tersenyum
Senyum bintang, bulan hilang
Hilangbulan, senyum datang.
Bintang, bulan bintang
Merenung.
Senyum bintang, bulan datang
Bintang oh bintang
Akankah bintang datang
Datang pada siang?

Bangga (Aku) Jadi Orang Indonesia




Oleh Muhammad David
Siswa MA KM Muhammadiyah Padangpanjang
Lewat bambu runcing engkau menang.
Karya alam yang tak dibuang percuma
Bangga Aku di sisimu
Jutaan daerah yang bersatu
Sabang sampai Merauke
Bersatu dalam NKRI
Bangga Aku jadi Orang Indonesia
Indonesia tanah airku
Ribuan pulau, ribuan bahasa
Satu padu di bawah Pancasila
Bhineka Tunggal Ika semboyannya
Jawa, tak dapat tanpa Sunda
Sunda, juga satu pada Minang
Minang pada Batak.
Berlanjutlah pada Nias, Hingga seribu daerah
Hingga seribu bahasa.
Seribu pulau
Maritim, Khatulistiwa, tanah surga negeriku.
Bangga (Aku) Jadi orang Indonesia
Tanah yang subur, tak kenal perbedaan dalam beda.
Kenal persatuan dalam Bhineka Tunggal Ika

Arti Malam Tahujjud




Angin malam kembali bercerita
Pada tubuh lemah yang tiada daya ini
Angin malam bangun kan aku
Dari perekat dunia nyata dan mimpi.
Jauhkan aku dari mimpi
Yang ingin ku ukir pada kilau air.
Nasihat mu bangunkan aku pada malam getir
Pada hujan bergemuruh.
Dunia seakan bercerita. Tentang aku yang angkuh.
Dunia seakan menari. Pada sengsara bahagia ku.
Dunia seakan mempermalukan aku.
Namun, semilir angin bak penyemangat ku.
Bak penasehat pemberi ku jalan terang.
Bukakan aku jalan terang pada gelap malam.
Ajarkan aku pada sujud dan rukuk.
Jauh kan aku pada angkuh dan sombong.
Tahajjud ku malam ini, jadi arti pentingnya hidup ku
Panti ‘Aisyiah Padang Panjang, 19 November 2014